Sastra bukan sekadar tulisan indah yang memanjakan imajinasi pembaca. Pertanyaan mendasar sering kali muncul: Mengapa kekuasaan yang dipersenjatai dengan kekuatan penuh justru sering kali merasa terancam dan takut pada karya sastra, buku, maupun bait-bait puisi? Mengapa sepanjang lintasan sejarah, banyak penulis yang dibungkam, dipenjara, bahkan diasingkan jauh dari tanah airnya karena tulisan-tulisan mereka?
Jawabannya terletak pada hakikat karya itu sendiri: sastra tidak pernah sepenuhnya netral. Di balik setiap cerita, bait puisi, alur novel, dan naskah drama, selalu bermukim pergulatan gagasan yang secara perlahan mampu membentuk—sekaligus membongkar—cara manusia dalam memahami dunianya.
Dalam sejarah panjang peradaban umat manusia, sastra telah mengambil peran penting sebagai medium emansipasi. Ia menjadi suara paling lantang bagi mereka yang tertindas untuk menyampaikan pengalaman pahit, mengkritik ketidakadilan struktural, serta menantang narasi-narasi dominan yang secara terus-menerus diproduksi oleh kekuasaan otoriter. Melalui sastra, perlawanan tidak hanya direkam, tetapi juga diwariskan kepada generasi berikutnya.