Nasil dan Tangan Terkepal!
Matahari di di atas Jalan Cijawura tergelincir, menyisakan hawa gerah khas pinggiran Bandung yang beradu dengan angin malam. Di sudut tak jauh dari lokasi kampus Universitas Nusantara Islam, berdiri tenda angkringan. Kokoh. Nasi kucing yang terbakar mengeluarkan baunya, sate usus bersaus kecap dan bumbu perasa, dan rebusan jahe susu menjadi magnet bagi mereka yang ingin menghilangkan penat setelah seharian berkeringat.
Angkringan itu milik Kang Hasbi, seorang perantau paruh baya yang ramah, tapi menyimpan gurat lelah di wajahnya yang terdalam. Malam itu, ia ditemani Jima, mahasiswa tingkat akhir jurusan pendidikan UNUIS yang bekerja sebagian waktu sebagai pelayan angkringan demi bisa membayar uang akhir semesternya yang terus menunggak.
“Jim, nasi cumi bakar tinggal tilu bungkus deui. Bakar nu anyar weh, nya,” ucap Pak Hasbi sambil menyeka keringat dengan handuk kecil di lehernya.
“Muhun, Kang,” balas Jima, tanggannya cekatan mengipasi arang. Ia tahu betul, angkringan ini bukan sekadar tempat mencari makan, tapi ruang aman bagi orang-orang kelas bawah di Cijawura untuk mengeluarkan kelelahan dan keluhan tentang ekonomi yang kian menjepit.
Datanglah Hilih tak lama kemudian, seorang buruh cuci harian yang hidup di gang sempit Cijawura Girang. Hilih duduk dengan bahu merosot, menghitung lembaran uang ribuan lecek di tangannya. “Kang Hasbi, bade meser kopi hitam satu sama bacem dua. Hutang kemarin saya bayar sawareh nya kang. Kontrakan ayeuna naik deui sasih ayeuna,” keluh Hilih dengan parau.
Kang Hasbi tersenyum tipis, mengangguk maklum. “Keun teu sawios, teu nanaon Lih. Nu penting mah makan heula.”
Sesungguhnya konflik kelas di jalan Cijawura bukan sekadar tentang perut lapar, tetapi tentang ruang hidup yang kian tergusur. Kawasan pemukiman padat itu sekarang diincar para pemilik modal untuk dijadikan kompleks rumah toko (ruko) dan kos-kosan mewah berharga tinggi.
Tepat ketika Hilih mengunyah tahunya, mobil sedan mengkilap berhenti di depan angkringan, mempersempit Jalan Cijawura yang sudah sempit. Dari dalam turunlah Kahbar, seorang pengusaha properti lokal yang malam itu ditugaskan ayahnya untuk memantau pembebasan lahan di kawasan tersebut. Ia tidak sendiri, ia ditemani Rawan, tangan kanannya yang bertindak sebagai mandor lapangan, juga pemuda lokal yang memilih berpihak pada Kahbar demi mendapatkan kehidupan yang layak.
Kahbar melangkah masuk ke tenda angkringan dengan ekspresi masam, mengibas-ngibaskan tangan karena asap. “Wan, pastikeun minggon payun udah teu aya deui lapak-lapak goreng di dieu. Harus bersih! Salasah hijina angkringan ieu, bapak aing teu resep nu ngaganggu pamandangan jiga kieu,” ucap Kahbar tanpa memedulikan Kang Hasbi dan Jima yang berada di depannya.
Waran mengangguk patuh, lalu menatap Kang Hasbi dengan pandangan merendahkan. “Kadangu teu ku saria? Surat waleran tos aya ti kecamatan. Jalan Cijawura ieu bade ditata. Saria sadaya kudu ingkah!”
Mendengar hal itu, telinga Jima memanas. Ia meletakkan kipas arangnya dengan hentakan keras. “Maraneh mah mentingkeun beteung sorangan! Warga sadaya nu didieu tos lila icing di dieu. Saria justru nu kudu ingkah di dieu! Ngaganggu kahirupan batur!”
Kahbar terkekeh sinis, memandang Jima dari atas ke bawah. “Maraneh mah jalma teu boga. teu bisa nanaon, ngan saukur kudu narimakeun kanyataan.”
“Narimakeun?!” Hilih tiba-tiba berdiri, suaranya meninggi, memecah keheningan malam Cijawurra. “Warga di dieu teh geus gawe ti isuk berang dugi ka peting, demi ngahirupan sapopoe, sedengkeun maraneh ujug-ujug datang rek ngusir kami? Har, moal narima! Maraneh nu kudu ingkah di dieu mah!”
Suasana angkringan dekat UNUIS mendadang tegang. “Jaga cungur saria! Bisi diasupkeun ka penjara!”
Namun, malam itu ada yang berbeda. Penindasan yang bertumpuk-tumpuk melahirkan keberanian baru. Jima tidak merasa lagi takut. Ia memandang pada Kang Hasbi yang membalas dengan angukan mantap, memberi restu. Jima keluar dari tenda, menatap ke arah beberapa pemuda Cijawura dan mahasiwa UNUIS yang sedang nongkrong mulai berkerumun karena mendengar keributan.
“Maraneh mah sangenah na karena mikir sagalana bisa dibeli pake duit!” Seru Jima lantang, “Maraneh meuren ti ayeuna bisa sangenahna ka kami, tapi ingeut, kami moal ingkah sakutil oge!”
Para mahasiswa UNUIS dan pemuda lokal yang berkerumun mulai menyahut, memberikan seruan solidaritas. Kahbar yang melihat situasi mulai tidak kondusif, mendadak kehilangan keangkuhannya pasang mata menatapnya dengan amarah yang solid.
“Goblok! Deleukeun ku saria! Hayu Wan urang indit ti dieu,” bisik Kahbar gelisah, bergegas masuk kembali ke dalam sedannya yang mewah, diikuti Aris yang melangkah mundur cemas. Mobil itu melesat cepat, meninggalkan kepulan debu di Jalan Cijawura.
Di dalam angkringan, ketakutan yang biasanya menyelimuti berganti menjadi api yang menyala. Jima memandang Hilih, Kang Hasbi, dan rekan-rekan mahasiswa yang kini berkumpul di dalam tenda.
“Mulai ti peting ayeuna, urang lawan saha wae nu ngaganggu kahirupan di Jalan Cijawura!” seru Jima sambil mengepalkan tangan. “Sabubukna!”
Kang Hasbi tersenyum bangga, sementara Hilih mengusap air matanya, bukan karena sedih, tetapi melihat harapan baru. Di bawah temaram lampu angkringan dekat kampus UNUIS, sebuah perjuangan kelas baru dimulai. Mereka tahu jalannya akan panjang, tapi malam itu, di Angkringan di jalan Cijawura itu, menolak tunduk pada penguasa modal
Angkringan itu milik Kang Hasbi, seorang perantau paruh baya yang ramah, tapi menyimpan gurat lelah di wajahnya yang terdalam. Malam itu, ia ditemani Jima, mahasiswa tingkat akhir jurusan pendidikan UNUIS yang bekerja sebagian waktu sebagai pelayan angkringan demi bisa membayar uang akhir semesternya yang terus menunggak.
“Jim, nasi cumi bakar tinggal tilu bungkus deui. Bakar nu anyar weh, nya,” ucap Pak Hasbi sambil menyeka keringat dengan handuk kecil di lehernya.
“Muhun, Kang,” balas Jima, tanggannya cekatan mengipasi arang. Ia tahu betul, angkringan ini bukan sekadar tempat mencari makan, tapi ruang aman bagi orang-orang kelas bawah di Cijawura untuk mengeluarkan kelelahan dan keluhan tentang ekonomi yang kian menjepit.
Datanglah Hilih tak lama kemudian, seorang buruh cuci harian yang hidup di gang sempit Cijawura Girang. Hilih duduk dengan bahu merosot, menghitung lembaran uang ribuan lecek di tangannya. “Kang Hasbi, bade meser kopi hitam satu sama bacem dua. Hutang kemarin saya bayar sawareh nya kang. Kontrakan ayeuna naik deui sasih ayeuna,” keluh Hilih dengan parau.
Kang Hasbi tersenyum tipis, mengangguk maklum. “Keun teu sawios, teu nanaon Lih. Nu penting mah makan heula.”
Sesungguhnya konflik kelas di jalan Cijawura bukan sekadar tentang perut lapar, tetapi tentang ruang hidup yang kian tergusur. Kawasan pemukiman padat itu sekarang diincar para pemilik modal untuk dijadikan kompleks rumah toko (ruko) dan kos-kosan mewah berharga tinggi.
Tepat ketika Hilih mengunyah tahunya, mobil sedan mengkilap berhenti di depan angkringan, mempersempit Jalan Cijawura yang sudah sempit. Dari dalam turunlah Kahbar, seorang pengusaha properti lokal yang malam itu ditugaskan ayahnya untuk memantau pembebasan lahan di kawasan tersebut. Ia tidak sendiri, ia ditemani Rawan, tangan kanannya yang bertindak sebagai mandor lapangan, juga pemuda lokal yang memilih berpihak pada Kahbar demi mendapatkan kehidupan yang layak.
Kahbar melangkah masuk ke tenda angkringan dengan ekspresi masam, mengibas-ngibaskan tangan karena asap. “Wan, pastikeun minggon payun udah teu aya deui lapak-lapak goreng di dieu. Harus bersih! Salasah hijina angkringan ieu, bapak aing teu resep nu ngaganggu pamandangan jiga kieu,” ucap Kahbar tanpa memedulikan Kang Hasbi dan Jima yang berada di depannya.
Waran mengangguk patuh, lalu menatap Kang Hasbi dengan pandangan merendahkan. “Kadangu teu ku saria? Surat waleran tos aya ti kecamatan. Jalan Cijawura ieu bade ditata. Saria sadaya kudu ingkah!”
Mendengar hal itu, telinga Jima memanas. Ia meletakkan kipas arangnya dengan hentakan keras. “Maraneh mah mentingkeun beteung sorangan! Warga sadaya nu didieu tos lila icing di dieu. Saria justru nu kudu ingkah di dieu! Ngaganggu kahirupan batur!”
Kahbar terkekeh sinis, memandang Jima dari atas ke bawah. “Maraneh mah jalma teu boga. teu bisa nanaon, ngan saukur kudu narimakeun kanyataan.”
“Narimakeun?!” Hilih tiba-tiba berdiri, suaranya meninggi, memecah keheningan malam Cijawurra. “Warga di dieu teh geus gawe ti isuk berang dugi ka peting, demi ngahirupan sapopoe, sedengkeun maraneh ujug-ujug datang rek ngusir kami? Har, moal narima! Maraneh nu kudu ingkah di dieu mah!”
Suasana angkringan dekat UNUIS mendadang tegang. “Jaga cungur saria! Bisi diasupkeun ka penjara!”
Namun, malam itu ada yang berbeda. Penindasan yang bertumpuk-tumpuk melahirkan keberanian baru. Jima tidak merasa lagi takut. Ia memandang pada Kang Hasbi yang membalas dengan angukan mantap, memberi restu. Jima keluar dari tenda, menatap ke arah beberapa pemuda Cijawura dan mahasiwa UNUIS yang sedang nongkrong mulai berkerumun karena mendengar keributan.
“Maraneh mah sangenah na karena mikir sagalana bisa dibeli pake duit!” Seru Jima lantang, “Maraneh meuren ti ayeuna bisa sangenahna ka kami, tapi ingeut, kami moal ingkah sakutil oge!”
Para mahasiswa UNUIS dan pemuda lokal yang berkerumun mulai menyahut, memberikan seruan solidaritas. Kahbar yang melihat situasi mulai tidak kondusif, mendadak kehilangan keangkuhannya pasang mata menatapnya dengan amarah yang solid.
“Goblok! Deleukeun ku saria! Hayu Wan urang indit ti dieu,” bisik Kahbar gelisah, bergegas masuk kembali ke dalam sedannya yang mewah, diikuti Aris yang melangkah mundur cemas. Mobil itu melesat cepat, meninggalkan kepulan debu di Jalan Cijawura.
Di dalam angkringan, ketakutan yang biasanya menyelimuti berganti menjadi api yang menyala. Jima memandang Hilih, Kang Hasbi, dan rekan-rekan mahasiswa yang kini berkumpul di dalam tenda.
“Mulai ti peting ayeuna, urang lawan saha wae nu ngaganggu kahirupan di Jalan Cijawura!” seru Jima sambil mengepalkan tangan. “Sabubukna!”
Kang Hasbi tersenyum bangga, sementara Hilih mengusap air matanya, bukan karena sedih, tetapi melihat harapan baru. Di bawah temaram lampu angkringan dekat kampus UNUIS, sebuah perjuangan kelas baru dimulai. Mereka tahu jalannya akan panjang, tapi malam itu, di Angkringan di jalan Cijawura itu, menolak tunduk pada penguasa modal