Media sosial menjadi ruang yang memungkinkan berbagai kelompok masyarakat menyampaikan kritik terhadap kebijakan publik. Salah satu contohnya adalah poster “Pesta Dedi, Jabar Wadul!” yang diunggah oleh PKC PMII Jawa Barat. Poster tersebut menampilkan sosok pemimpin daerah yang menunggang kuda putih di tengah gambaran persoalan sosial seperti tumpukan sampah, antrean bantuan sembako, dan bangunan sekolah yang rusak.
Memahami makna poster tersebut, teori Encoding–Decoding Stuart Hall dapat digunakan sebagai pisau analisis. Menurut Hall, media tidak sekadar mengirimkan pesan kepada audiens, tetapi mengonstruksi makna melalui proses encoding. Makna tersebut kemudian ditafsirkan kembali oleh audiens melalui proses decoding sesuai dengan pengalaman sosial masing-masing.
Proses encoding oleh PKC PMII Jawa Barat berusaha membangun kritik terhadap narasi “Jabar Istimewa”. Simbol pemimpin di atas kuda putih ditempatkan di tengah gambaran masalah sosial, menghasilkan kontras antara citra keberhasilan dan realitas. Penggunaan hashtag #JabarIstimewa dan #JabarWadul menunjukkan upaya membangun narasi tandingan.
Namun, audiens tidak selalu menerima pesan sesuai dengan maksud pembuatnya. Sebagian menerima kritik ini (dominant reading). Sebagian mengakui persoalan sosial tetapi meminta indikator pembangunan yang lebih luas (negotiated reading). Sementara lainnya menolak narasi PMII dengan menyampaikan pengalaman positif pelayanan publik (oppositional reading).
Melalui teori Stuart Hall, poster ini dipahami sebagai upaya menghadirkan narasi alternatif. Namun, respons publik menegaskan bahwa makna sebuah pesan tidak pernah tunggal dan media sosial menjadi ruang perebutan makna dalam komunikasi politik kontemporer.
Untuk membaca essay selengkapnya, silakan klik tautan berikut:
Baca Essay Lengkap (Google Drive)