Perkembangan media sosial seringkali mengubah cara kita dalam memahami realitas politik. Dalam budaya digital, sebuah realitas menjadi kabur karena citra dan simbol tidak lagi membahas makna yang sebenarnya. Informasi terus diproduksi dan dimodifikasi, mengakibatkan pergeseran makna yang mengaburkan batas antara realitas dan kepalsuan.
Fenomena ini dapat dipahami melalui konsep simulacra dan hiperrealitas gagasan Jean Baudrillard. Salah satu contohnya adalah pergeseran makna akronim MBG yang semula merujuk pada "Makan Bergizi Gratis" menjadi identik dengan lagu viral “Mas Bahlil Ganteng”. Padahal, Program MBG merupakan kebijakan strategis Badan Gizi Nasional untuk menekan angka stunting di Indonesia (21,5% pada 2023).
Namun, di platform TikTok, akronim tersebut dipelesetkan menjadi bahan humor melalui konten AI. Dalam perspektif Baudrillard, ini adalah proses Simulakra—tanda tidak lagi merepresentasikan realitas (kesejahteraan masyarakat) tetapi membentuk realitas baru (meme hiburan). Makna baru ini justru menjadi lebih terkenal daripada makna aslinya.
Kondisi ini menggambarkan Hiperrealitas, di mana masyarakat lebih mengenali “Mas Bahlil Ganteng” daripada program gizi itu sendiri. Konsumsi publik bergeser dari substansi kebijakan menjadi konsumsi simbolik yang diviralkan. Fenomena ini mengingatkan kita bahwa di era media sosial, apa yang paling banyak beredar belum tentu realitas sebenarnya, melainkan citra yang dibangun di atasnya.
Untuk membaca essay selengkapnya, silakan klik tautan berikut:
Baca Essay Lengkap (Google Drive)